Cari Di Sini

Menanti Kelanjutan Hambalang

3/30/2016 05:00:00 PM

Sumber Foto : republika.co.id

JAKARTA —

Empat tahun tak tersentuh, megaproyek Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (PS3SON) di Hambalang, Bogor, kembali menjadi buah bibir. Penyebabnya tak lain adalah pemerintah yang mengisyaratkan akan melanjutkan proyek yang didaulat bisa melahirkan atlet berbakat pengharum nama bangsa tersebut. Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pertengahan Maret lalu semakin membuat penasaran, akan seperti apa nasib lahan seluas 32 hektare ke depan.

Kelanjutan proyek pembangunan yang sempat terhenti pada tahun 2011 silam memang masih menjadi misteri. Terlebih, setelah istana sepertinya menutup rapat informasi tersebut, dengan alasan masih memerlukan waktu untuk mengkaji terlebih dahulu. "Rencana melanjutkan itu ada, tapi harus menunggu kajian dulu," kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Pribowo, saat dihubungi Republika, Rabu (23/03).

Meski begitu, wacana pemerintah yang ingin menyelamatkan aset negara tersebut sepertinya bukan sekadar embusan angin surga. Keseriusan tersebut tergambar setelah Presiden Jokowi menginstruksikan langsung anak buahnya untuk melakukan kajian, apakah pembangunan proyek Hambalang layak dilanjutkan atau tidak. Tiga instruksi yang dilayangkan Presiden, di antaranya meminta menteri pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR) untuk mengkaji topografi dan bangunan, apakah layak dilanjutkan atau malah dialihfungsikan.

Jokowi juga meminta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengaudit secara menyeluruh proyek Hambalang tersebut. Terakhir, Jokowi meminta digelarnya rapat terbatas untuk berkoordinasi dengan jaksa agung, membahas sisi hukum. "Juga nanti mungkin akan mengonfirmasi kembali kepada KPK," ucap Johan Budi.

Johan melanjutkan, seandainya pun kembali dilanjutkan, belum tentu proyek Hambalang tersebut akan dijadikan wisma atlet seperti yang direncanakan pada awalnya. Maka dari itu, Jokowi berharap, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi melakukan kajian tentang akan difungsikan menjadi apa bangunan yang akan didirikan di sana.

Menyikapi instriksi Presiden tersebut, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) langsung melakukan kajian terhadap kelanjutan proyek Hambalang. Terkait apakah akan tetap dijadikan pusat pelatihan, sekolah, atau perguruan tinggi ilmu olahraga, Kemenpora mengaku belum memiliki kesimpulan. "Belum (bisa) ber-statement karena sedang kami kaji detail tentang proyeksi dan kemungkinan-kemungkinan berikutnya," kata Menpora Imam Nahrawi.

Anggota komisi X DPR, Dadang Rusdiana, menyatakan siap mendukung rencana pemerintah. Dia pun meminta semua pihak terlebih dahulu mengesampingkan persepsi-persepsi politik di balik rencana pemerintah melanjutkan proyek Hambalang tersebut. Karena, secara konseptual, menurutnya Indonesia sangat membutuhkan sport center atau sentra olahraga terpadu demi pembibitan keolahragaan. Pembangunan sentra olahraga terpadu diyakininya akan mampu melahirkan atlet-atlet berprestasi yang bisa mengibarkan bendera Merah Putih di kancah internasional.

"Bahwa pembibitan olahraga harus dilakukan sejak dini. Tidak bisa kita hanya mengambil atlet-atlet yang sudah jadi," kata Dadang. Politikus Partai Hanura tersebut menyatakan, Komisi X sudah menyepakati kelanjutan proyek Hambalang tersebut. Apalagi, beberapa bangunan yang telah berdiri di sana hanya memerlukan perbaikan. Artinya, proyek tersebut jika dilanjutkan tidak harus dimulai dari nol. Malahan, pria kelahiran Bandung tersebut memprediksi, anggaran Rp 500 miliar saja sudah cukup untuk menyelesaikan pembangunan proyek Hambalang.

Meski sudah menghabiskan dana triliunan, Dadang mencurigai bangunan yang telah berdiri saat ini tidak dibangun dengan kualitas material yang bagus. Bagaimana tidak, pada pembangunannya, proyek Hambalang ini sangat kental dengan aroma korupsi. Sebagai bukti nyata, beberapa politikus Partai Demokrat, seperti Angelina Sondakh, Muhammad Nazaruddin, Anas Urbaningrum, serta Andi Malarangeng diputus bersalah dan harus rela mendekam di balik jeruji besi.

Maka dari itu, dengan dana pembangunan yang tidak sampai setengah dari anggaran yang pernah dianggarkan sebelumnya, Dadang optimistis proyek Hambalang bisa dibangun sesuai harapan. "Kalau uang misalkan ditarik sana-sini, meskipun anggaran tinggi kan kualitas tetep akan jelek juga," ucap Dadang.

Pria 49 tahun tersebut melanjutkan, permasalahan yang perlu dikaji betul hanyalah konstruksi tanah yang berdasarkan kajian, sewaktu-waktu bisa mengembang dan menimbulkan pergeseran. Namun, kemudian, menurutnya, permasalahan tersebut akan mudah diatasi, mengingat teknologi konstruksi yang semakin canggih.

Menanggapi permasalahan tersebut, mantan kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono menuturkan, pembangunan di Hambalang, jika untuk konstruksi besar seperti pusat olahraga, bisa dilakukan. Asalkan, pembangunan tersebut mengikuti prosedur yang benar. Prosedur yang dimaksud lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut adalah dengan mengetahui titik-titik batuan lempung yang bisa mengembang jika terkena air tersebut.

"Dulu tahun 2001, saya menyatakan tidak layak huni karena bangunannya itu fondasinya tidak sampai ke tanah keras. Karena itu kan rumah biasa, permukiman, kalau bergerak tanah permukaannya, lantainya retak-retak, temboknya retak-retak. Karena itu kan pemukiman biasa. Tapi, kalau bangunan untuk pusat olahraga itu kan dia punya dana," kata pria yang akrab disapa Mbah Rono tersebut. Mbah Rono melanjutkan, pada dasarnya alam itu tidak bisa diubah karena mempunyai karakter tersendiri. Maka dari itu, segala aktivitas pembangunan harus mengikuti karakter alam tersebut. Ketika tanah Hambalang memiliki kondisi spesial, pembangunannya pun harus dilakukan dengan cara yang spesial. Jangan sampai pembangunan tersebut dilakukan secara terburu-buru.

Rono memaparkan langkah-langkah yang harus diperhatikan jika pembangunan di Hambalang dilanjutkan. Karena kondisi tanah di Hambalang terdiri dari batuan lempung, maka harus ada fondasi yang sampai ke batuan keras. Meski begitu, pembuatan fondasi tersebut jangan sampai membuat batu lempung terkelupas sehingga air mudah masuk.

Langkah yang harus diperhatikan selanjutnya adalah menata baik keairan yang ada di Hambalang. Misalnya, dengan membuat saluran yang baik sehingga air tidak meresap ke bawah tanah, yang berpotensi membasahi batu lempung tersebut. "Kalau basah, batu lempung itu menjadi mengembang dan licin. Maka tanah di atasnya bisa bergerak," ucap Rono. Oleh Dadang Kurnia ed: Muhammad Hafil

Tiga Instruksi Presiden:

1. Meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk mengkaji topografi dan bangunan.
2. Meminta BPKP untuk mengaudit secara menyeluruh proyek Hambalang.
3. Meminta digelarnya rapat terbatas untuk berkoordinasi dengan jaksa agung membahas sisi hukum.

( republika.co.id )

Sumber Berita :
http://republika.co.id/berita/koran/podium/16/03/30/o4ujtd10-menanti-kelanjutan-hambalang

Baca Juga :

0 komentar