Cari Di Sini

Pemerintah akan Revitalisasi Museum Radya Pustaka

4/22/2016 01:05:00 PM

Sumber Foto : harnas.co

harnas.co

Pemerintah segera merevitalisasi Museum Radya Pustaka Surakarta agar terlihat tidak ketinggalan zaman. Rencana ini menyusul kondisi museum yang berdiri pada 1890 itu karena minim anggaran.

Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman, Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Harry Widianto mengatakan banyak yang harus dibenahi pada Museum Radya Pustaka. Dia menyatakan mengunjungi museum itu, Rabu lalu.

"Kondisinya sangat memprihatinkan. Karena itu, kita ambil kesimpulan perlu segera direvitalisasi," ujar nya kepada HARIAN NASIONAL, Rabu (20/4).

Menurut dia, masalah penutupan museum beberapa waktu lalu sudah kita close. Sekarang sedang dikomunikasikan dengan pihak museum untuk menentukan langkah. Museum Radya wajib mengaktualisasi dirinya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Kemendikbud akan membimbing untuk mengembangkan potensi yang ada.

Harry menyayangkan ketidakjelasan pemilik museum. Namun, kata dia, itu tidak menjadi halangan pemerintah untuk terus mengembangkan museum agar sesuai dengan tuntutan zaman.

"Kepemilikan harus jelas, wali kota atau Komite Museum Radya Pustaka. Namun, tidak peduli milik siapa, kita harus bergerak. Bergerak seperti apa, nanti kita sesuaikan dengan kondisi. Yang terpenting, pemerintah sudah hadir," katanya.

Harry mengemukakan, dana yang dianggarkan Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman Rp 240 miliar untuk pelestarian cagar budaya dan permuseuman. Anggaran tersebut akan dialokasikan 40 persen untuk cagar budaya, 40 persen untuk permuseuman, sisanya biaya operasional.

Dengan anggaran tersebut Kemendikbud akan berusaha mengubah persepktif masyarakat bahwa museum tidak hanya tempat untuk menumpuk barang-barang kuno. Museum harus memiliki tiga program utama: penelitian, edukasi, dan rekreasi.

Harry mengungkapkan museum harus nyaman. Museum harus bercerita sehingga orang datang bisa berbagi pengetahuan dengan yang lain. "Objeknya ditonjolkan dengan lighting, IT harus bekerja di situ. Tidak hanya jadi tempat menaruh barang, tetapi juga edukatif," katanya.

Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Dadang Rusdiana mengatakan, berhenti beroperasinya Museum Radya Pustaka karena tidak memiliki dana operasional. Dalam museum tersebut juga terdapat buku-buku bersejarah yang sebagian besar ditulis dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Belanda.

"Ini menunjukan tingkat penghargaan kita terhadap perpustakaan dan warisan budaya masih rendah. Pemkot Solo harus segera menyelesaikan masalah ini dengan memperbaiki persoalan badan hukum dan tata kelola museum," katanya.

Khusus perpustakaan dalam Museum Radya Pustaka, Dadang menilai memiliki sejarah yang tinggi. Karena itu harus mendapat perhatian serius. Pasalnya, minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah. Hal ini harus mendorong pemerintah pusat dan pemda memperhatikan pengembangan perpustakaan yang ada di dalam museum tersebut.

Menurut dia, memberikan perhatian kepada perpustakaan dan pendidikan kemasyarakatan lainnya kadang dianggap tidak seksi karena hasilnya baru terlihat dalam jangka panjang. Beda dengan bangun jalan dan jembatan, sekian bulan langsung terlihat. Padahal perubahan mindset manusia modal yang paling berharga dalam membangun bangsa.

( Reportase : Bayu Adji / Editor : Admin )

Sumber Berita :
harnas.co/2016/04/22/pemerintah-akan-revitalisasi-museum-radya-pustaka

Baca Juga :

0 komentar