Cari Di Sini

Partai Pendukung Jokowi Waswas

5/19/2016 04:50:00 AM

Sumber Foto : suaramerdeka.com

JAKARTA –

Sejumlah partai pendukung kembali mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk tidak melupakan jerih payah mereka saat Pilpres 2014.

Mereka khawatir Partai Golkar akan mendapatkan porsi lebih di pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla (JK). Sekretaris Fraksi Hanura DPR Dadang Rusdiana menyatakan, kekhawatiran pihaknya cukup beralasan karena diyakini dukungan Golkar kepada pemerintah bakal ada timbal balik.

Namun demikian, Presiden Jokowi tidak boleh melupakan partai yang sebelumnya sudah mendukung.

”Tidak boleh merangkul yang baru tapi mengkhianati dan membuat sakit hati pendukung lama,” tegas Dadang. Jika hal tersebut sampai terjadi, Dadang menilai, hal tersebut tidak bijaksana.

Menurutnya, jika Golkar nanti bergabung dalam kabinet jangan sampai mengurangi jatah partai pendukung yang lama. Sebaliknya, jatah dari kaum profesional lah yang dikurangi. ”Sehingga reshuffle jangan buat dikotomi parpol dan kelompok profesional.

Karena tentu orang parpol profesional juga siap duduki posisi apa pun,” katanya. Dukungan Golkar kepada pemerintah Jokowi-JK sudah terbaca sejak Setya Novanto mengikrarkan diri maju sebagai kandidat calon ketua umum.

Bahkan saat Setya Novanto menang, dia kembali ikrar untuk mengusung Jokowi menjadi capres 2019. Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan tersenyum saat dikonfirmasi soal itu. ”Sabar dulu lah,” jawab Luhut sambil tersenyum dan sedikit terkekeh di kantornya.

Luhut lalu langsung masuk mobilnya dan duduk bersebelahan dengan Kepala BNP2TKI Nusron Wahid. Nusron juga merupakan kader Golkar yang sempat dipecat oleh Aburizal Bakrie (Ical) lantaran mendukung Jokowi di Pilpres 2014 lalu.

Tetapi dalam Munaslub ini status kadernya direhabilitasi. Sebelumnya Nusron dan Luhut memang sempat berbincang. Nusron mengaku hanya bersilaturahim saja setelah Munaslub usai.

Novanto yang terpilih sebagai Ketum di Munaslub Golkar, tidak berniat maju menjadi capres. Dukungan dari partai beringin pun akan total diberikan ke Jokowi. ”Golkar mendukung pencalonan Jokowi untuk 2019. Bukan hanya mendukung, tapi mengusung,” kata politikus Golkar Yorrys Raweyai.

Keputusan Wajar

Keputusan lain dari Munaslub adalah keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP). Pengamat sosial politik Inded Arif Susanto menilai keputusan itu menjadi suatu yang wajar.

”Di saat iklim politik kita sarat pragmatisme dan kepentingan jangka pendek, mengalahkan perjuangan ideologis dan kepentingan jangka panjang, maka menjadi wajar keputusan keluar dari KMP. Di saat KMP tidak terbentuk ikatan yang sifatnya ideologis,” kata Arif kepada Suara Merdeka, kemarin.

Menurut dia, tanpa unsur ideologis, maka seringkali ikatan menjadi mudah rapuh, di saat ada tawaran lain yang lebih menarik dari kacamata pragmatis. Namun dengan tidak ada perjuangan ideologis, maka publik disuguhkan pentas politik yang rendah.

Yang mana hal ini merendahkan kualitas demokrasi. Dihubungi terpisah, pengamat politik Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menilai Golkar perlu kerja ekstra keras, di saat tingginya tuntutan publik bahwa parpol harus dipimpin oleh orangorang yang integritasnya tidak diragukan.

”Kerja sangat keras harus dilakukan kepengurusan DPP Golkar saat ini disaat publik menuntut parpol berbenah. Kita tentu ingat saat perolehan Partai Demokrat pada Pemilu 2014 lalu yang turun, karena rakyat kecewa beberapa oknum Demokrat tidak sesuai janji anti korupsi,” kata Ubedilah.

Menurut dia, dalam upaya meraih kepercayaan publik, salah satunya dilakukan dengan Golkar harus jeli dalam mendukung calon dalam Pilkada Serentak 2017. Jadi harus benar-benar sosok yang berkualitas dan integritasnya tidak diragukan lain. Dan Pilkada Serentak 2017 menjadi batu ujian pertama bagi Golkar.

( F4,J13,dtc,ant-90 )

Sumber Berita :
berita.suaramerdeka.com/smcetak/partai-pendukung-jokowi-waswas/

Baca Juga :

0 komentar